Feeds:
Posts
Comments

Arsitek: Margaretha Lukmanto, dpavilion architects

in flexibility, ringkas dan mudah dibongkar-pasang
in flexibility, ringkas dan mudah dibongkar-pasang

Kotor dan tidak teratur adalah problem kota Surabaya yang dihadapi saat ini. Salah satu faktor yang menyebabkan kota ini tidak rapi adalah kegiatan pedagang kaki lima. Kita sering melihat kios PKL mangkrak di tepi- tepi jalan jika penjual tidak lagi berjualan. Dinding dan tembok kota “dihiasi” dengan atap terpal PKL. Surabaya menjadi semakin kumuh ditambah lagi sampah-sampah berserakan yang ditinggalkan oleh para PKL tersebut. Sebagai seorang arsitek, bagaimana cara kita menyikapi problem tersebut dengan membuat urban furniture yang fungsional dan memadai untuk memudahkan para pedagang meringkas dan membersihkan kiosnya.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana membuat sebuah kios yang fleksibel dan efisien dengan memperhatikan faktor estetika, kebersihan dan menampung seluruh aktifitas penjual dan pembeli. Desain yang dibutuhkan adalah desain yang mempunyai fleksibilitas dengan sistem transformation( dapat dikembang-susutkan), dari bentuk yang kecil dan sederhana dapat dikembangkan menjadi lebih besar dan dapat dikembalikan menjadi kecil lagi. Desain seperti ini dapat mempercantik view kota  karena menghindarkan desain kios permanen yang merusak wajah kota, atau kios yang ditinggalkan di pinggir jalan karena pedagang malas membawa pulang.

Desain kios yang baik harus mempunyai beberapa elemen, seperti: tempat display barang atau makanan, tempat sampah, atap peneduh, tempat duduk, meja dan tempat penyimpanan. Desain kios yang mempunyai ukuran awal 1,7mx1,5mx1,2m dapat dikembangkan menjadi 2,8mx1,5mx 2,5m. Ukuran semula kios yang kecil dan ringkas dan ditambah dengan desain roda di bagian bawah, maka sang penjual dapat mendorong dan meringkas kios dengan mudah. Desain kios dengan tempat sampah dapat menghindarkan pembuangan sampah yang sembarangan. Perabot atau makanan dan minuman yang akan dijual disimpan pada tempat penyimpan yang bisa berubah fungsi menjadi tempat duduk dan meja. Demikian juga rak display dapat diatur bentuknya sesuai dengan fungsi kios masing-masing. Kios dengan sistem fleksibilitas ini dapat menjadi kios multifungsi, antara lain untuk berjualan majalah, rokok, minuman dan makanan kecil.

Arsitek     : Edwin Nafarin (Principal)

Kamawardhana Heksa Putra

Teks          : Anas Hidayat

Habitat, karya dpavilion architects ini, merupakan sebuah landmark yang terletak di tengah-tengah roundabout (bundaran jalan) di kawasan Kahuripan Nirwana Village (KNV) di Sidoarjo dengan lahan seluas 3,3 hektar. Seperti dijelaskan Edwin Nafarin (principal architect) bahwa rencana awalnya adalah membuat sebuah gigantic sculpture sebagai penanda utama kawasan sekaligus sebagai ikon yang memberi nilai lebih pada area sekitarnya. Kemudian muncul gagasan: mengapa tidak dibuat habitable sculpture (sculpture yang bisa didiami) sekalian? yang bisa menjadi tempat berkegiatan bagi masyarakat sekitar, dan bukan sekadar monumen pajangan untuk dilihat belaka.

Kemudian, jadilah Habitat sebagai sebuah sculpture-architecture yang bisa dihuni dan digunakan untuk aktifitas masyarakat, di dalamnya ada fasilitas publik seperti perpustakaan (library), museum, plaza, gallery, serta entertainment and commercial space.

Tatanan

Tatanan dari habitat ini didasarkan pada konsep habitat klasik Jawa dalam mengatur dan menata ruang, yakni: keblat papat limo pancer. Di mana ada sebuah lapangan besar yang dikelilingi oleh empat bangunan penting di sekelilingnya. Alun-alun berada di depan Kabupaten/Kraton sebagai halamannya, sedangkan di sebelah barat Alun-alun ada Masjid Besar/Masjid Jami’. Di sisi-sisi yang lain ada Pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi dan juga Penjara. Di tengah alun-alun yang luas itu, biasanya terdapat Waringin Kurung (beringin kembar yang dikurung/dipagari), melambangkan jagad gede (macrocosmos) dan jagad cilik (microcormos) dalam kepercayaan Jawa.

Habitat, Alun-alun Vertikal
Habitat, Alun-alun Vertikal

Alun-alun, umumnya hampir identik dengan hamparan horisontal berupa lapangan luas dengan rumput hijau yang menutupi permukaannya, dengan bangunan di sekelilingnya yang cenderung horisontal pula. Tapi di Habitat ini, kawasan alun-alun ”dijungkir-balikkan”, dengan dijadikan sebuah bentukan yang vertikal, namun tetap mengambil prinsip keblat papat limo pancer yang diwujudkan dalam massa-massa bangunannya yang berdiri di keempat penjuru mata angin. Dengan demikian, habitat sekaligus menjadi ”alun-alun yang bukan alun-alun”.

Lapangan besar alun-alun dijelmakan menjadi plaza yang terletak di pusat/pancer, letaknya yang strategis di tengah-tengah membuat plaza ini begitu istimewa, menjadi pusat orientasi sekaligus halaman dari keempat massa bangunan di sekelilingnya. Dan keempat massa bangunannya yang berformasi konsentris berupa museum, gallery, entertainment center dan library (perpustakaan), masing-masing dilengkapi dengan commercial spaces. Sedangkan Waringin Kurung di-stretch (ditarik memanjang) menjadi dua buah jembatan (jembatan kaca dan beton) yang bersilangan di tengah-tengah plasa.

Bentuk

Menurut arsitek senior di dpavilion architects Kamawardhana Heksa Putra, ide massa bangunannya diambil dari bunga teratai (lotus, padma). Hal ini mengingat habitat ini berada di tengah buzem/kolam penampungan air di kawasan ini, sehingga ide bunga teratai (yang berhabitat di air) ini menjadi pilihan yang cukup tepat. Bunga teratai (yang akarnya berada di dalam air) terdiri dari daun yang melebar di atas air sebagai pelampung agar tidak tenggelam, dan tangkai bunganya muncul dari antara daun-daun, sedangkan bunganya mekar mengembang di atas daun. Dengan metafora dari teratai tersebut, maka lahirlah empat buah lempeng sculptural sebagai metafor dari mahkota/corolla bunga teratai yang tumbuh menjulang ke atas. Julangannya tidak lurus, melainkan agak melengkung untuk memberi aksen natural (tidak geometrik).

Habitat, Bunga Teratai yang Mekar
Habitat, Bunga Teratai yang Mekar

Sebuah bunga, selalu dimulai dari keadaan kuncup (bud), yang kemudian berproses menuju kondisi mekar (blossom) yang merupakan fase sempurna sebuah bunga. Dalam proses tersebut, bunga itu “bergerak” makin lebar, makin besar dan mengembang. Bunga yang mekar sempurna memiliki kualitas dulce et utile (indah dan berguna). Secara estetis indah dilihat dan menarik perhatian, dan secara fungsional sebagai alat reproduksi atau perkembangbiakan demi kelangsungan hidup di masa berikutnya. Jadi, proses blossom/mekarnya teratai di habitat ini sekaligus sebagai multi-lambang, bisa berarti: hidup (life), tumbuh (growth), harapan (hope) serta masa depan (future) yang lebih baik.

Box

oleh: Anas Hidayat

anashiday@yahoo.co.uk

Dalam bukunya Method in Architecture, Tom Heath memilah cara melihat proses kreatif  arsitek menjadi dua golongan besar. Yang pertama dinamakan glass box (kotak kaca), yakni proses kreatif arsitek yang bisa dirunut urutannya mulai dari ide, konsep awal dan “perjalanannya” hingga ke bentuk jadi. Orang bisa melihat proses kreatif ini seperti di dalam sebuah kotak kaca yang tembus pandang, apa pun yang terjadi di dalamnya bisa diketahui. Yang kedua disebut dengan black box (kotak hitam), ini merupakan proses kreatif arsitek yang tidak terlalu jelas, sepertinya tahu-tahu muncul begitu saja dan sulit diketahui bagaimana berlangsungnya proses kreatif itu secara terstruktur. Dengan kata lain, ini proses kreatif yang misterius.

Di dalam glass box, urutan proses kreatif memang menjadi mirip sains, yakni bisa dipelajari sebagai pengetahuan yang ilmiah. Sebuah proses yang melibatkan cipta, rasa dan karsa manusia bisa (dan kadang-kadang juga dipaksa untuk bisa) dijadikan ilmiah, masuk akal, logis. Pada proses ini, proses kreatif benar-benar menjadi ilmu terukur, yang bisa dipelajari dan ditularkan dari generasi ke generasi, dari orang yang satu ke orang yang lain. Membuat sebuah karya arsitektur sama halnya seperti proses membuat mobil atau pesawat terbang, terutama pada aspek-aspek teknisnya.

Sekolah-sekolah arsitektur kebanyakan dibuka dengan kecenderungan mengandaikan proses kreatif sebagai glass box. Proses kreatif arsitek dianggap sebagai ilmu yang bisa distrukturkan sebagai sains (ilmu pengetahuan). Dalam proses belajar menjadi arsitek, mahasiswa arsitektur diberi bekal tentang proses berpikir yang ilmiah. Ketika membuat skrpsi atau tugas akhir, harus berdasar pada prinsip-prinsip penelitian ilmiah tersebut. Jadi, harus jelas urutannya, jelas teorinya dan jelas alasannya sebagai sebuah pertanggungjawaban ilmiah juga.

Sedangkan di dalam black box, proses kreatif yang terjadi justru lebih mirip proses kreatif seniman (terutama seniman di bidang seni murni), karya yang terjadi tidak begitu jelas langkah-langkahnya. Arsitek atau seniman seperti mendapat ilham dari langit, lalu jadilah sebuah karya, proses di dalamnya menjadi misteri, gelap dan hitam sehingga disamakan dengan black box. Proses kreatif sebenarnya juga memiliki sisi misteri tak terungkap, yang memang tidak bisa dipelajari sebagai ilmu yang terstruktur. Sama seperti kalau kita melihat seniman, proses kreatifnya lebih banyak berpangkal dari intuisi, bukan pada pemikiran yang saintifik.

Intuisi jelas bukan ilmu formal yang bisa diajarkan. Namun, mempertajam rasa di dalam diri untuk memperkuat kemampuan intuitif masih bisa dilakukan. Jadi, di sini yang ditekankan adalah kepekaan, empati dan rasa yang hanya bisa dicari dengan pengalaman diri, tidak bisa hanya dengan membaca buku atau melihat gambar. Mengapa mahasiswa perlu mendatangi karya-karya arsitek yang terkenal misalnya. Karena apa yang ada di dalam glass box mungkin sudah dipelajarinya di bangku kuliah, tetapi “jiwa” karya itu yang muncul dari intuisi black box sang arsitek perlu latihan intensif untuk bisa menangkapnya langsung, sehingga bisa menambah kekuatan intuitif dalam dirinya.

Perbedaan antara glass box dan black box mungkin hampir sama dengan perbedaan antara proses berpikir di otak kiri dan otak kanan manusia. Otak kiri berpikir secara kognitif, sedangkan otak kanan berpikir secara intuitif. Posisi arsitektur yang memang berada di antara sains dan seni, jelas memerlukan kekuatan kedua box tersebut. Yang dibutuhkan barangkali sebuah box yang campuran, yang berada di antara glass box dan black box. Jadi, bisa saja ini justru malah menjadi box yang ketiga: bless box!

Judul Buku    : Penjaga Memori; Gardu di Perkotaan Jawa

Penulis           : Abidin Kusno

Penerbit          : Ombak, Jogjakarta

Cetakan          : I, 2007

Tebal              : xv + 154 halaman

Oleh: Anas Hidayat, dpavilion think tank

Hmmm.. gardu. Dalam kehidupan sehari-hari, gardu sangat sering kita jumpai di ujung jalan atau gang, namun jarang sekali kita perhatikan dan cermati, apalagi kita telisik kembali sejarah dan asal-usulnya. Kalau memang ada orang yang menelusuri sejarah gardu, sedemikian pentingkah gardu dalam kehidupan keseharian kita? Jika kita baca uraian Abidin kusno dalam buku ini, jawabannya adalah: ya. Dengan “mata poskolonial” yang jeli sekaligus tajam (mungkin hanya ada beberapa “mata” seperti ini di kalangan arsitektur Indonesia), Abidin mampu mengamati dan mengkaji jejak-rekam gardu di Jawa sejak awal genesis-nya di masa lalu hingga keadaannya yang sekarang. Gardu yang ketika kita lewati kita anggap bukan apa-apa dan mudah kita lupakan karena cuma sekadar pemanis jalan atau pelengkap perempatan, ternyata memiliki sejarah yang ikut mengiringi perkembangan peradaban kota-kota di Jawa selama berabad-abad.

Selama ini, dalam ranah kajian arsitektur, sebagaian besar obyek amatannya selalu berhubungan dengan karya-karya arsitektur masterpiece yang menjulang seperti Menara Petronas di Kuala Lumpur, megah seperti Gedung Putih di Washington DC dan monumental laksana Hagia Sophia di Konstantinopel (sekarang Istambul). Dibandingkan dengan adikarya yang demikian, gardu sungguh ibarat cuwilan kecil yang tak ada harganya. Sedangkan dalam perkuliahan arsitektur, gardu biasanya hanya menjadi tugas merancang bagi mahasiswa semester 1 atau 2 yang baru mengenal bentuk dan ruang. Ya, gardu memang hampir selalu sederhana, kecil dan kadang-kadang dibuat tidak permanen.

Namun, setelah dikaji secara mendalam oleh Abidin Kusno dalam bukunya ini, gardu ternyata merupakan wujud bangunan yang tidak main-main. Gardu menjadi saksi perkembangan kota-kota di Jawa, serta ikut mengalami evolusi dan revolusi dari jaman ke jaman. Abidin mengawali paparannya tentang gardu dengan melihat kembali fenomena posko PDI-Perjuangan pro-Megawati di tahun 1998. Di tahun itu, ada ribuan posko PDI-Perjuangan didirikan di seluruh kota di Jawa sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan Orde Baru yang mendukung PDI Surjadi. Tidak lupa, posko-posko PDI-Perjuangan itu memasang gambar-gambar Soekarno, semacam antitesis dari sosok Soeharto (yang waktu itu sudah hampir jatuh kekuasaannya). Di era sebelumnya, di jaman Orde Baru pimpinan Soeharto, gardu biasa disebut pos Hansip atau Poskamling (Pos Keamanan Lingkungan) yang sebenarnya digunakan sebagai alat untuk memata-matai, mengontrol dan mendisiplinkan rakyat mulai tingkat nasional sampai ke tingkat RT (Rukun Tetangga).

Kemudian Abidin mundur jauh ke belakang dan menemukan bahwa gardu di Jawa sudah ada sejak sebelum kolonialisme Eropa. Saat itu gardu biasa dijumpai di dekat pintu masuk kediaman bangsawan atau orang terkemuka. Tujuan pembuatan gardu itu untuk menunjukkan kuasa raja sebagai pusat kosmos (jagad besar). Misalnya, sembilan pintu gerbang di Keraton Jogjakarta adalah simbol dari hawa sanga (sembilan lubang nafsu) yang ada pada diri manusia. Selanjutnya, pembentukan citra gardu yang cukup signifikan terjadi pada masa kolonialisme Belanda di jaman Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1805-1811). Daendels memperkenalkan pembagian teritorial dan batas-batas wilayah yang jelas. Dia juga membangun Groote Postweg (Jalan Pos Besar) sepanjang Pulau Jawa dari Anyer sampai Panarukan, yang tiap sembilan kilometer dibangun pos untuk memudahkan lalu-lintas dan pengawasan. Di sinilah muncul istilah gardu (rumah jaga) yang kemungkinan berasal dari bahasa Perancis: garde.

Di jaman pendudukan Jepang, gardu menjadi tempat untuk mengawasi, mendidik dan memobilisasi rakyat (dengan sistem tonarigumi, semacam Rukun Tetangga) agar Jepang bisa menang dalam Perang Asia Timur Raya melawan Sekutu. Dan di masa revolusi pasca kemerdekaan, gardu dijadikan pos pemeriksaan yang cukup ketat oleh milisi-milisi Indonesia untuk mengidentifikasi orang republiken dan non-republiken. Di samping itu, Abidin juga menyinggung tentang pengalaman masyarakat Tionghoa berkaitan dengan gardu. Sistem keamanan dengan ronda lingkungan (pao tjia) sudah diterapkan etnis Tionghoa di pesisir Jawa sejak abad ke 10. Etnis Tionghoa yang sering mendapat pengalaman kekerasan dalam sejarah perkotaan, membuat gardu sebagai upaya mempertahankan diri.

Penyajian sejarah gardu dengan gaya flashback yang tidak runtut (tidak sesuai urutan waktu) a la Abidin Kusno dalam buku ini memang cukup menarik karena kita bisa tahu dari mana penulis mendapatkan greget pertamanya dalam menulis, jadi semacam urutan prioritas saja yang ditekankan oleh penulis. Akan tetapi, bagi mereka yang terbiasa dengan buku sejarah yang runtut urutan waktunya, hal semacam ini mungkin sedikit mengganggu. Kita harus bisa mengurutkannya sendiri dalam pengertian kita, sehingga gambaran utuhnya tetap bisa tertangkap dengan jelas.

Format buku ini yang tidak terlampau tebal (hanya 150-an halaman) cukup menarik karena lebih merangsang minat baca dibandingkan buku-buku sejarah yang tebal (yang harus dibaca dengan serius pula). Uraiannya yang to the point dan tidak bertele-tele membuatnya gampang untuk dicerna, bahkan oleh mereka yang membaca santai sekali pun. Apalagi dengan adanya tampilan foto-foto unik gardu dari masa lalu yang nostalgik sampai yang kontemporer saat ini, bisa sedikit meringankan penat mata ketika membaca. Buku ini bisa dianggap sebagai buku sejarah arsitektur yang sosiologis sekaligus poskolonial, yang ingin pula menguak sejarah peradaban dan budaya kota-kota di Jawa dari sudut pandang sempalan (alternatif, bukan arus besar).

Gardu, si bangunan mungil di pojok-pojok persimpangan jalan, ternyata juga merupakan sosok “besar” yang ikut menyimpan memori kolektif masyarakat perkotaan di Indonesia, khususnya di Jawa. Sejarah gardu tidak berbeda jauh dengan sejarah hidup manusia, selalu punya banyak sisi, majemuk dan plural. Perannya selalu berubah-ubah seturut dengan dinamika kehidupan kota. Biarkan gardu menentukan masa depannya sendiri, entah peran apa lagi yang dipilihnya nanti. Kita hanya bisa menunggu.

Folding – Lipatan

Arsitek: Kamawardhana Heksa Putra dari dpavilion architects

untuk marketing office Sentul City

dari folding kertas ke folding arsitektural

dari folding kertas ke folding arsitektural

Desain secara manual, baik dengan sketsa maupun dengan simulasi 3 dimensi menggunakan guntingan kertas mungkin sudah tergeser oleh program desain di komputer yang semakin lama semakin canggih dan sangat membantu arsitek mewujudkan karya rancangannya. Meski demikian, banyak juga yang tetap menggunakan cara tersebut karena masih sangat berguna untuk mengeksplorasi ide-ide, mencari kemungkinan-kemungkinan baru.

Simulasi 3 dimensional ini dibuat untuk mencari ide perancangan marketing office di Sentul City, dengan cara mengolah lipatan (folding) dari media kertas untuk menemukan ide bentuk. Akhirnya, terciptalah sebuah bentukan dengan bidang-bidang yang makin ke pinggir makin meninggi. Rongga-rongga di antara bidang itulah yang menjadi ruang dalamnya. Kemiringan atapnya yang mencuat ke sana-sini menjadi elemen yang menarik secara visual.

Kreatifitas dalam merancang memang tidak muncul dengan dipikirkan atau dilamunkan saja, yang terpenting adalah aksi, berbuat. Dan proses lipatan (folding) yang tersaji ini menjadi bukti nyatanya.

urut-urutan proses folding

urut-urutan proses folding

dpavilion think tank

ini adalah blog yang dikelola oleh dpavilion think tank. dpavilion think tank sendiri merupakan salah satu divisi dari dpavilion architects yang menangani semua hal yang berkaitan dengan konsep, wacana, pemikiran dan penulisan arsitektural.

dpavilion think tank membagi hal di atas menjadi 4 kategori. ada kategori main issue, regol, reka dan wacana. blog ini juga menampilkan tulisan-tulisan lain, dan selalu terbuka terhadap komentar untuk didiskusikan atau diperdebatkan lebih lanjut.

terimakasih,

Anas Hidayat

koordinator dpavilion think tank